Media Sosial bagi Brand, Perlukah?

0

Bintaronline.id – Beberapa waktu lalu muncul perselisihan antara pengelola apartemen dengan salah satu penghuni, yang menuliskan keluhan di media sosial. Tanpa melihat siapa yang benar atau salah dalam kasus tersebut, jika dilihat dari sudut pandang komunikasi pemasaran, seharusnya dapat dihindari apabila brand (pengelola apartemen) memiliki strategi pengelolaan media sosial yang tepat.

Apakah perlu brand hadir di media sosial? Apakah bukan berarti brand membiarkan diri ‘telanjang’ dan ‘ditembaki’ oleh pelanggan yang tidak puas?

Kehadiran brand di media sosial pada era digital seperti sekarang, seharusnya menjadi salah satu strategi untuk memperkuat kehadirannya di mata konsumen. Penting juga, hadir atau tidak brand di media sosial, orang akan tetap membicarakan, terutama jika ada hal yang tidak memuaskan di mata konsumen.  Nah, ketika hal itu terjadi, siapa yang harus menanggapi jika brand tidak hadir di media sosial? Dikhawatirkan, ketidakpuasan akan menjadi ‘bola liar’ yang semakin memperburuk citra brand di mata konsumen.

Kunci keberhasilan brand dalam mengelola akun media sosial yang dimiliki adalah pada perencanaan dan pemantauan percakapan di akun media sosial. Tahap perencanaan dimulai sejak awal sebelum brand menentukan platform media sosial apa yang akan dipakai. “Oh, bukannya kita bebas memilih platform media sosial yang kita inginkan?” Tidak sesederhana itu.

Langkah pertama adalah mendengarkan suara masyarakat tentang brand kita di media sosial. Positif atau negatif? Pada platform media sosial apa brand kita lebih banyak disebut? Apakah konsumen potensial kita pengguna media sosial yang aktif? Dan beberapa pertanyaan lain yang pada intinya ingin memastikan, apapun pilihan platform media sosial kita adalah platform yang tepat untuk kita berkomunikasi dengan konsumen.

Setelah itu, brand harus memiliki tujuan yang jelas dan terukur dengan kehadirannya di media sosial. Apakah ingin membangun awareness? Meningkatkan engagement dengan konsumen? Atau, meningkatkan penjualan? Tentukan  satu tujuan untuk satu periode tertentu, sehingga seluruh upaya brand dapat terarah pada tujuan dan cara penyampaiannya.

Menentukan kelompok sasaran (target audiences) adalah langkah berikutnya. Perlu dipertimbangkan untuk menentukan kelompok sasaran dengan rentang usia yang pendek (10 – 15 tahun). Hal ini, salah satu alasannya, akan menentukan cara kita memilih visual dan kata karena adanya perbedaan preferensi pada kelompok-kelompok usia yang berbeda.

Baru di langkah berikutnya, ditentukan platform media sosial yang digunakan, apakah Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, atau LinkedIn. “Apakah brand dapat memilih lebih dari satu platform?” Tentu saja bisa dengan memperhatikan content planning secara baik.

Apa itu content planning? Upaya membuat perencanaan isi yang terstruktur dan sistematis sebelum melakukan posting di media sosial. Brand harus menentukan cerita apa yang akan dibangun guna memperkuat kehadirannya dan membedakan dengan para pesaing.

Content plan perlu dibuat secara rinci karena content plan yang baik akan membuat brand lebih mudah menjaga konsistensi materi isi, baik dari sisi topik, gaya bahasa, visual, dan sebagainya. Selain itu brand dapat merencanakan waktu-waktu yang tepat untuk melakukan posting serta memiliki catatan yang baik mengenai apa saja yang pernah diposting.

Setelah tahap perencanaan, brand harus melakukan pemantauan atas akun media sosial. Hal ini penting agar fans/follower tidak merasa diabaikan. Ibarat punya saluran telepon layanan pelanggan, tetapi tidak pernah ada yang menjawab ketika ditelepon. Fans/followers yang ‘terabaikan’ akan berpotensi menjadi ‘perusak’ brand.

Jadi kesimpulannya, brand perlu hadir di media sosial dengan perencanaan dan pemantauan yang tepat agar mendapatkan hasil maksimal bagi citra positif di mata konsumen.

Oleh: Agung Ari Wibowo
Sumber Foto : Creative Agency Secrets

Leave A Reply