Karyawan sebagai Social Media Ambassador

0

Bintaronline.id – Perusahaan atau brand sudah banyak yang memiliki akun di media sosial. Salah satu tujuannya adalah untuk berkomunikasi dengan khalayak sasarannya (target audience) agar nilai-nilai/produk/jasa brand dapat diketahui oleh mereka. Masalahnya, akun media sosial brand menjadi kurang efektif apabila tidak memiliki jangkauan (reach) yang luas.

Ada 2 cara yang umum untuk mendapatkannya, yaitu beriklan melalui platform media sosial yang dipilih. Cara kedua adalah dengan menggunakan pihak ketiga sebagai ‘juru bicara’.

Di media sosial, ‘juru bicara’ biasa disebut buzzers, yaitu pemilik akun (berawal dari pengguna Twitter) dengan pengikut berjumlah 2.000 atau lebih yang dibayar untuk mempromosikan produk tertentu lewat rangkaian tweet. (tekno.kompas.com).

Ketika brand sibuk memikirkan bagaimana agar pesannya menjangkau audience yang lebih luas dengan memanfaatkan eksternal buzzers, banyak brand yang melupakan aset terbesar mereka – karyawan, yang bisa menjadi buzzers yang efektif bagi brand. Dalam beberapa tulisan disebut juga sebagai Social Media Ambassador.

Keterlibatan karyawan ini dapat membantu brand dalam 3 (tiga) hal pokok di media sosial, yaitu:

  1. Prevent, yaitu mencegah karyawan membuat posting yang menjelekkan brand- Sebagian besar posting negatif terjadi karena ketidaktahuan karyawan bahwa apa yang mereka posting punya potensi menurunkan kredibilitas brand. Malah ada karyawan yang membuat posting negatif mengenai brand tempatnya bekerja, dan berdalih bahwa dia hanya mengekspresikan pendapatnya di akun miliknya.
  2. Protect, yaitu melindungi brand dari sebuah posting negatif yang beredar di media sosial supaya tidak menjadi viral. Bukan malah ikut-ikutan menyebarkannya.
  3. Promote, yaitu menyebarkan informasi positif dari brand. Bisa sekedar share apa yang diposting di akun brand, atau membuat cerita dengan bahasanya sendiri, terutama yang berhubungan dengan pengalaman mereka menggunakan brand-nya sendiri.

Untuk menjadi Social Media Ambassador yang efektif, karyawan harus dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan untuk ‘bercerita’. Unit media sosial sebuah brand harus pandai mengatur dan mengkoordinir pemanfaatan Social Media Ambassador ini.

Perilaku Social Media Ambassador yang kurang tepat akan mengakibatkan kurang efektifnya pedayagunaan karyawan pada program ini. Hal ini sangat bergantung kepada bagaimana cara kita ‘share’ the story. Oleh karenanya, karyawan yang akan dijadikan Social Media Ambassador adalah mereka yang memiliki passion di media sosial.

Jika perusahaan Anda memiliki jumlah karyawan yang besar, maka lakukanlah seleksi untuk memilih karyawan yang memang memiliki passion di media sosial dan berikan pelatihan yang cukup agar cerita/artikel yang mereka unggah di media sosial dapat menarik minat teman-teman mereka terhadap brand Anda.

Pada intinya, pelatihan ini mencakup 2 hal dasar, yaitu bagaimana membuat tulisan (termasuk status) yang soft selling dan membuat foto yang baik.

Agung Ari Wibowo
agungaw@gmail.com

Leave A Reply